Saturday 24 January 2026 - 09:17
Nama yang Diwahyukan: Perintah Langit untuk Menamai Sang Cahaya Karbala

Hawzah/ Ketika akan menamai Aba Abdillah (Imam Husain 'alaihissalam), Malaikat Jibril turun seraya berkata: "Wahai Muhammad! Tuhan Yang Maha Agung menyampaikan salam dan berfirman: 'Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam disisimu seperti Harun disisi Musa 'alaihimassalam. Maka, namailah anakmu ini dengan nama anak Harun!'" Rasulullah saw bertanya: "Siapa nama anak Harun?" Jibril menjawab: "Syabir." Rasulullah saw. berkata: "Bahasa saya adalah bahasa Arab." Jibril pun berkata: "Namailah ia Husain" (Nama yang artinya sama dengan 'Syabir' dalam bahasa Arab).

Berita Hawzah– Asma' binti 'Umais berkata: "Ketika Husain bin Ali 'alaihissalam lahir dan Rasulullah saw. mengetahuinya, Beliau datang dan berkata: 'Wahai Asma', berikan anakku padaku!' Aku membungkus anaknya dengan kain putih dan menyerahkannya kepada Beliau. Rasulullah saw. kemudian mengumandangkan azan di telinga kanannya dan iqamah di telinga kirinya. Kemudian, air mata berlinang di mata beliau yang mulia, dan beliau pun menangis."

Aku berkata, “Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, Apa yang membuatmu engkau menangis?”, Beliau bersabda, “anakku ini.” Aku bertanya, “Untuk seorang bayi yang baru lahir engkau menangis, padahal seharusnya Engkau bergembira?” Beliau menjawab, “Kelompok (orang) zalim akan membunuhnya sepeninggalku, dan aku tidak akan memberikan syafaat kepada mereka pada Hari Kiamat.” Kemudian beliau berpesan, “Jangan sampaikan kabar ini kepada Fatimah (salamullah ‘alaiha) untuk sementara waktu.” Setelah itu, beliau bertanya kepada Imam Ali 'alaihissalam, “Wahai Ali, apa nama yang engkau berikan untuk anakmu?”, Imam Ali 'alaihissalam menjawab, “Aku tidak akan mendahului Rasulullah saw. dalam memberi nama.” Rasulullah Saw bersabda: "Aku pun tidak akan mendahului Tuhanku."

Pada saat itulah Jibril turun dan berkata: "Wahai Muhammad! Tuhan Yang Maha Agung menyampaikan salam dan berfirman: 'Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam disisimu seperti Harun disisi Musa 'alaihimassalam. Maka, namailah anakmu ini dengan nama anak Harun!'", Rasulullah Saw bertanya: "Siapakah nama putra Harun?", Jibril menjawab: "Syabir." Rasulullah Saw bersabda: "Bahasa (lidah)-ku adalah bahasa Arab." Jibril berkata: "Namailah ia Husain." (Nama yang artinya sama dengan 'Syabir' dalam bahasa Arab). Maka Rasulullah Saw menamainya Husain dan menyembelih seekor domba jantan sebagai aqiqah untuknya [1].

Beberapa Pelajaran Agung dari Sekolah Husain (as)

Dari kehidupan Imam Husain ‘alaihissalam, kita dapat memetik pelajaran agung tentang jihad, syahadah, amar ma‘ruf nahi munkar, serta perlawanan terhadap kezaliman, kediktatoran, dan penyimpangan. Namun, warisan beliau tidak berhenti di situ. Dalam setiap ucapan dan perilaku beliau, tersimpan pula bimbingan hidup yang indah untuk memperbaiki diri dan mengatur gaya hidup seorang Muslim. Oleh karena itu, sudah sepatutnya para penulis dan pemikir menggali serta menganalisis mutiara-mutiara hikmah yang diriwayatkan dari beliau, lalu menjadikannya bekal berharga untuk membersihkan diri dari aib, mengatasi kekurangan, dan memperbaiki kerusakan dalam hidup.

1. Cara Imam Husain 'alaihissalam Menyikapi Sepucuk Bunga Hadiah dari Seorang Budak Perempuan

Suatu hari, seorang budak perempuan mempersembahkan sebatang bunga sebagai hadiah kepada Imam Husein 'alaihissalam. Imam, sambil menerima hadiah itu, bersabda: "Engkau merdeka (bebas) di jalan Allah." Anas bin Malik, pelayan Rasulullah Saw, berkata: "Aku berkata kepada Beliau: 'Budak perempuan ini memberimu hadiah sebatang bunga (yang tidak berharga), dan engkau memerdekakannya karenanya?'" Beliau bersabda: "Allah telah mendidik kami seperti ini: 'Apabila kalian dipuji, hendaklah kalian membalas dengan pujian yang lebih baik atau yang serupa.'" [2] Imam Husain 'alaihissalam menunjukkan kepada Anas bahwa hadiah tidak boleh dinilai berdasarkan jumlah dan harganya, melainkan nilai hadiah terletak pada hakikat perbuatannya dan menunjukkan kemuliaan si pemberi hadiah.

2. Menjenguk Orang Sakit dan Melunasi Hutangnya

Suatu hari, Imam Husein 'alaihissalam mengunjungi Usamah bin Zaid yang sedang sakit. Beliau melihatnya bersedih. Beliau bertanya: "Mengapa engkau bersedih?", Dia menjawab: "Aku memiliki hutang sebanyak enam puluh ribu dirham." Imam Husein 'alaihissalam berkata: "Pelunasan hutangmu menjadi tanggung jawabku." Dia berkata: "Aku takut mati sebelum itu (hutang terlunasi)." Imam bersabda: "Engkau tidak akan mati sampai aku melunasinya." Kemudian, sebelum kematiannya (Usamah), Beliau melunasi hutang tersebut.

3. Pelajaran-pelajaran untuk Menjauhi Dosa

Seorang laki-laki menghadap Imam Husein 'alaihissalam. dan berkata: "Aku adalah seorang pendosa dan tidak mampu menahan diriku dari maksiat. Nasihatilah aku." Beliau bersabda: "Perhatikanlah lima hal ini, kemudian setelah itu lakukanlah dosa apa pun yang kamu inginkan:"

1. Jangan makan rezeki Allah, lalu lakukan dosa apa pun yang kamu inginkan!

2. Keluarlah dari bumi Allah, lalu lakukan dosa apa pun yang kamu inginkan!

3. Carilah tempat di mana Allah tidak melihatmu, lalu lakukan maksiat apa pun yang kamu inginkan!

4. Ketika Malaikat Maut datang untuk mencabut nyawamu, tolaklah dia dan jangan biarkan dia mencabut ruhmu. Setelah itu, lakukan dosa apa pun yang hatimu inginkan!

5. Pada Hari Kiamat, ketika penjaga Neraka ingin memasukkanmu ke dalam Neraka, jika kamu mampu untuk tidak masuk ke dalamnya. maka, lakukanlah maksiat apa pun yang kamu inginkan! [3]

4. Pentingnya Shalat dalam Sirah (Perjalanan Hidup) Imam Husain (as)

Shalat memainkan peran penting dalam memperbaiki kehidupan; dalam tekanan dan lika-liku hidup, shalat yang merupakan hubungan indah dengan Sang Pencipta sangatlah membuka jalan dan menenangkan. Oleh karena itu, memperhatikan shalat dapat efektif dan berpengaruh dalam gaya hidup serta memperbaiki dan mengatasi masalah.

Imam Husein 'alaihissalam belum bisa berbicara saat itu. Rasulullah saw berdiri untuk melaksanakan shalat sunnah, dan Husain a.s. berada di sampingnya. Rasulullah saw. mengucapkan "Allahu Akbar," tetapi Imam Husein 'alaihissalam. belum bisa mengucapkannya. Hal ini berulang enam kali. Pada kali ketujuh, ketika Rasulullah saw. mengucapkan "Allahu Akbar," Husain a.s. membuka mulutnya dan berkata: "Allahu Akbar." Dengan demikian, ucapan pertama Husein 'alaihissalam saat membuka mulutnya adalah "Allahu Akbar," dan hingga akhir, Beliau tetap teguh pada syiar tauhid "Allahu Akbar" ini dan mengorbankan darah sucinya untuk mengagungkan kalimat "Allahu Akbar."

Salah satu teladan mulia dari Imam Husain 'alaihissalam adalah perhatiannya yang luar biasa terhadap ibadah shalat. Beliau senantiasa mengutamakan dalam menunaikan shalat di awal waktu. Keteguhan ini bahkan beliau tunjukkan pada hari Asyura yang penuh cobaan—di tengah terik siang dan panasnya medan pertempuran, shalat di awal waktu tetap tidak beliau tinggalkan. Ketika Amr bin Abdullah yang dikenal dengan Abu Tsumamah ash-Sha'idi berkata: "Aku ingin setelah shalat bermakmum kepadamu, aku bertemu dengan Tuhanku," Imam menjawab: "Kamu mengingatkanku akan shalat. Semoga Allah menjadikanmu termasuk orang-orang yang benar-benar menegakkan shalat. Ya, ini adalah awal waktu shalat Zhuhur. Mintalah mereka (musuh) untuk berhenti sejenak perperangan ini, agar kita dapat melaksanakan shalat."

Catatan Kaki:

[1] Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar, jilid 43, halaman 239.
[2] Ibid., jilid 44, halaman 195.
[3] Ibid., jilid 17, halaman 151.

Tags

Your Comment

You are replying to: .
captcha